script async='async' data-ad-client='ca-pub-1427198531043357' src='https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js'/> Awan Media: 2026

Jumat, 12 Juni 2026

SISI LAIN SURGA DIENG… SAAT KEINDAHAN YANG KITA BURU ADALAH BENCANA BAGI MEREKA


Fenomena Embun Upas Dieng yang muncul saat suhu udara turun hingga mendekati nol derajat Celsius di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.

DIENG, JAWA TENGAH — Ketika suhu udara di Dataran Tinggi Dieng turun hingga di bawah nol derajat Celsius, ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan fenomena embun upas atau embun es yang menyelimuti hamparan rumput dan lahan pertanian. Fenomena langka ini terlihat begitu indah dan menjadi daya tarik wisata setiap musim kemarau.

Namun di balik keindahan yang banyak diburu wisatawan, ada cerita lain yang jarang terlihat. Bagi sebagian petani Dieng, embun upas bukan sekadar pemandangan menawan, melainkan fenomena alam yang dapat memengaruhi hasil pertanian mereka.

Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena Embun Upas Dieng terjadi ketika suhu udara di Dataran Tinggi Dieng turun sangat rendah hingga mendekati atau berada di bawah 0 derajat Celsius. Kondisi tersebut menyebabkan uap air membeku dan membentuk kristal es yang menempel pada rumput, tanaman, serta permukaan tanah.

## Embun Upas, Fenomena Alam yang Ditunggu Wisatawan

Embun upas merupakan fenomena alam yang muncul ketika suhu udara di Dataran Tinggi Dieng turun sangat rendah hingga mendekati atau bahkan di bawah nol derajat Celsius. Dalam kondisi tertentu, uap air di permukaan berubah menjadi kristal es yang menempel pada rumput, tanaman, dan berbagai permukaan lainnya.

Fenomena ini biasanya muncul saat musim kemarau, terutama pada pagi hari sebelum matahari terbit. Hamparan kristal putih yang menyelimuti kawasan Dieng sering menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.

Banyak pengunjung datang sejak dini hari untuk menyaksikan langsung fenomena yang dianggap langka di Indonesia tersebut. Tak sedikit yang mengabadikannya melalui foto dan video untuk dibagikan di media sosial.

## Ketika Petani Dieng Menghadapi Musim Embun Upas

Di balik keindahannya, embun upas juga memiliki dampak bagi sektor pertanian. Suhu udara yang sangat rendah dapat memengaruhi tanaman hortikultura yang menjadi sumber penghidupan sebagian masyarakat Dieng.

Beberapa tanaman seperti kentang, cabai, dan sayuran lainnya dapat mengalami kerusakan pada daun akibat suhu ekstrem. Daun yang terkena embun es berpotensi menghitam dan layu setelah terkena sinar matahari.

Kondisi inilah yang membuat sebagian petani merasa cemas setiap kali suhu udara Dieng turun drastis pada musim kemarau.

Bagi mereka, embun upas bukan hanya fenomena alam yang menarik perhatian wisatawan, tetapi juga tantangan yang harus dihadapi setiap tahunnya.

## Dua Cerita Berbeda di Dataran Tinggi Dieng

Fenomena embun upas menghadirkan dua cerita yang berjalan berdampingan.

Di satu sisi, embun es menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan kunjungan ke Dieng. Homestay, warung makan, jasa transportasi, hingga pelaku usaha kecil mendapatkan manfaat dari meningkatnya jumlah wisatawan.

Di sisi lain, sebagian petani harus menghadapi risiko yang ditimbulkan oleh suhu dingin ekstrem terhadap tanaman mereka.

Karena itu, embun upas sering dianggap sebagai fenomena yang menghadirkan dua wajah berbeda bagi masyarakat Dieng. Ada yang menyambutnya sebagai berkah, ada pula yang harus bersiap menghadapi tantangan.

## Menikmati Keindahan Dieng dengan Bijak

Dieng mengajarkan bahwa satu fenomena alam dapat menghadirkan cerita yang berbeda bagi setiap orang.

Bagi wisatawan, embun upas adalah keajaiban alam yang memukau. Bagi petani, fenomena yang sama menjadi pengingat akan tantangan hidup di kawasan pegunungan.

Karena itu, menikmati keindahan Dieng juga dapat menjadi kesempatan untuk mendukung masyarakat lokal. Mulai dari menginap di homestay warga, membeli produk UMKM setempat, hingga menikmati kuliner khas Dieng yang dijajakan masyarakat sekitar.

Pada akhirnya, keindahan Dieng bukan hanya tentang pemandangan yang memanjakan mata, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat yang tumbuh dan bertahan di tengah alam pegunungan yang luar biasa.

Setiap orang mungkin memiliki sudut pandang yang berbeda, namun satu hal yang pasti, fenomena alam ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dieng sejak lama.

Menurut kalian, apakah fenomena embun upas lebih banyak membawa berkah atau justru tantangan bagi masyarakat Dieng?

📍 Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara – Wonosobo, Jawa Tengah

✍️ Awan Media  
Cerita Desa dari Indonesia

Kamis, 11 Juni 2026

Ibu Hamil di Banjarnegara Ini Masih Tinggal di Rumah Sederhana Bersama Suaminya

 


Berdasarkan dokumentasi kunjungan sosial yang dibagikan melalui media sosial.



BANJARNEGARA — Di tengah masa kehamilannya, seorang perempuan di Desa Karanggondang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, masih tinggal di sebuah rumah sederhana bersama suaminya.

Kisah pasangan tersebut menjadi perhatian setelah kondisi tempat tinggal mereka terlihat dalam sebuah dokumentasi kunjungan sosial yang dibagikan melalui media sosial.

Dalam kunjungan tersebut, turut dibahas sejumlah persoalan administrasi dan akses layanan kesehatan yang sedang dihadapi keluarga tersebut, termasuk pengecekan data kependudukan untuk tindak lanjut bantuan yang diperlukan.

Selain meninjau kondisi tempat tinggal, bantuan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, serta bantuan lainnya juga turut disalurkan kepada keluarga tersebut.

Di tengah keterbatasan yang dihadapi, harapan tetap tumbuh seiring dengan hadirnya anggota keluarga baru yang sedang dinantikan.

Kisah ini menjadi potret bahwa di sejumlah wilayah pedesaan, masih terdapat masyarakat yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama.

📍 Desa Karanggondang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara


✍️ Awan Media

Cerita Desa dari Indonesia


Kamis, 21 Mei 2026

SERING DISALAHPAHAMI: DESA TERTINGGI DI PULAU JAWA ANTARA WONOSOBO DAN LUMAJANG

 


Kawasan pegunungan di Pulau Jawa selalu dikenal dengan sebutan “negeri di atas awan”. Namun, di tengah ramainya konten wisata dan media sosial, sering muncul perdebatan mengenai lokasi desa tertinggi di Pulau Jawa.

Sebagian orang menyebut kawasan Puncak B29 di Lumajang, Jawa Timur, sementara yang lain merujuk pada Desa Sembungan di kawasan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.

Lalu, mana yang sebenarnya paling tepat?


Desa Sembungan yang berada di kawasan Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, merupakan desa pemukiman resmi yang dihuni masyarakat.

Desa ini berada di ketinggian sekitar 2.300 mdpl, menjadikannya salah satu desa tertinggi di Pulau Jawa yang memiliki aktivitas penduduk tetap seperti:

  • rumah warga
  • sekolah
  • tempat ibadah
  • pertanian

Kawasan Dieng sendiri dikenal sebagai dataran tinggi vulkanik yang memiliki udara dingin ekstrem, kabut tebal, serta fenomena embun es atau bun upas yang sering muncul saat musim kemarau.


Sementara itu, Puncak B29 di kawasan Argosari, Lumajang, memiliki ketinggian sekitar 2.900 mdpl dan dikenal sebagai salah satu spot wisata negeri di atas awan paling populer di Indonesia.

Namun perlu dipahami bahwa titik tersebut merupakan:

  • area wisata
  • spot view / panorama
  • lokasi camping

Bukan wilayah pemukiman penduduk permanen di titik tertingginya.


Jika dilihat dari fungsinya:

  • Desa Sembungan → pemukiman resmi warga
  • Puncak B29 → titik wisata di ketinggian

Keduanya sama-sama menawarkan pemandangan alam pegunungan yang indah dan menjadi daya tarik wisata Indonesia.


Baik Dieng maupun Lumajang, keduanya dikenal dengan:

  • kabut pagi
  • suhu dingin pegunungan
  • pemandangan lautan awan
  • suasana alam yang masih asri
  • panorama sunrise pegunungan

Tak heran jika kedua lokasi ini sering viral di TikTok, Instagram, hingga YouTube karena keindahan alamnya yang memukau.


Perbedaan utama terletak pada definisi:

  • Desa Sembungan adalah desa pemukiman tertinggi yang dihuni penduduk
  • Puncak B29 adalah titik wisata di ketinggian tertinggi

Keduanya sama-sama istimewa dan memiliki keunikan masing-masing.


✍️ Awan Media
Cerita Desa dari Indonesia


DIENG MEMBEKU DI PAGI HARI: SUHU BISA MENDEKATI 0°C DAN FENOMENA EMBUN ES DI PEGUNUNGAN BANJARNEGARA

 


Dataran Tinggi Dieng di Banjarnegara, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan karena suhu dingin ekstrem yang dapat mendekati 0°C pada waktu tertentu di pagi hari.


Kawasan pegunungan ini dikenal dengan kabut tebal, udara dingin yang menusuk, serta fenomena alam langka berupa embun es atau bun upas yang kerap muncul saat musim kemarau.


Saat fajar mulai menyingsing, suasana Dieng masih diselimuti kabut tebal yang perlahan turun menutupi rumah warga, kebun kentang, dan jalan-jalan kecil di kawasan pegunungan.


Udara terasa sangat dingin, bahkan dalam kondisi tertentu suhu bisa turun hingga mendekati 0°C di pagi hari. Fenomena ini membuat suasana Dieng terlihat seperti membeku sesaat sebelum matahari benar-benar muncul.


Salah satu ciri khas paling terkenal dari Dieng adalah fenomena embun es atau bun upas.


Fenomena ini terjadi ketika suhu udara turun sangat rendah pada malam hingga pagi hari, cuaca cerah tanpa awan tebal, dan angin relatif tenang. Ketika kondisi ini terjadi, permukaan tanaman terutama kebun kentang akan tertutup kristal es tipis yang berkilau saat terkena cahaya matahari pagi.


Meski suhu sangat dingin, kehidupan masyarakat Dieng tetap berjalan seperti biasa. Petani tetap berangkat ke ladang sejak pagi hari, asap dapur mulai terlihat dari rumah-rumah warga, dan aktivitas desa berlangsung perlahan di bawah kabut pegunungan.


Dieng bukan hanya tentang keindahan alam, tetapi juga tentang kehidupan sederhana masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam ekstrem namun indah.


Fenomena dingin ekstrem di Dieng selalu menarik perhatian banyak orang setiap tahun.


Namun di balik itu, ada kehidupan sederhana masyarakat yang tetap berjalan di tengah alam yang keras namun indah.


Kalau kamu pernah ke Dieng…
👉 apa momen paling berkesan yang kamu rasakan di sana?


✍️ Awan Media
Cerita Desa dari Indonesia


Selasa, 19 Mei 2026

DIENG MULAI MEMASUKI MUSIM DINGIN, SUHU BISA TURUN HINGGA 0°C

 


Kawasan Dieng di Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah kembali ramai dibicarakan menjelang musim dingin. Suhu di dataran tinggi Dieng dikabarkan bisa mendekati 0°C saat musim kemarau tiba.


Kabut tebal yang turun perlahan di kawasan pegunungan, udara dingin khas Dieng, hingga fenomena embun es atau bun upas menjadi alasan banyak wisatawan mulai kembali merindukan suasana dataran tinggi ini. ☁️❄️


Tidak sedikit wisatawan yang mengaku ingin kembali ke Dieng untuk menikmati suasana pagi yang tenang, dingin, dan penuh kabut.


Tidak sedikit wisatawan yang mengaku ingin kembali ke Dieng…


Beberapa pengunjung bahkan pernah merasakan suhu 7–10°C saat malam hingga pagi hari di kawasan Dieng.


“Dinginnya Dieng bikin pengen balik lagi…”
“Pernah kesana suhu 8°C aja udah menggigil…”
“Semoga tahun ini bisa liburan ke Dieng…”


Komentar seperti itu mulai ramai memenuhi media sosial seiring suhu Dieng yang perlahan mulai turun menjelang musim dingin.


Bagi sebagian orang, Dieng bukan hanya tempat wisata. Tetapi juga tentang suasana desa pegunungan, kabut pagi, udara dingin, dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.


Saat matahari mulai terbit, kabut perlahan menyelimuti rumah warga, jalan desa, dan ladang kentang di kaki pegunungan. Di tengah udara dingin yang menusuk, kehidupan masyarakat tetap berjalan sederhana seperti biasa.


Mungkin itu sebabnya, semakin mendekati musim dingin… semakin banyak orang mulai ingin kembali ke Dieng. ❤️


Kalau kalian sendiri, pengen balik lagi ke Dieng atau baru pertama kali ingin datang kesana? ❄️


Penulis : Mas Awan Real
Editor : Tim Awan Media


Awan Media
Cerita Desa dari Indonesia


Sabtu, 16 Mei 2026

Ini Desa Tertinggi di Pulau Jawa yang Siangnya Bisa Tiba-Tiba Gelap karena Kabut Tebal

 Desa Sembungan yang berada di kawasan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar ±2.300 mdpl. Desa ini memiliki keunikan alam yang membuatnya berbeda dari wilayah lain di sekitarnya.






Karena berada di dataran tinggi, suhu di Desa Sembungan sangat dingin dan cuacanya cepat berubah. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah kabut tebal yang datang tiba-tiba dan menutupi seluruh desa.

Saat kabut turun, suasana siang hari bisa berubah menjadi seperti malam. Pandangan menjadi terbatas dan udara terasa semakin dingin.

Meski demikian, desa ini tetap memiliki panorama alam yang indah saat cuaca cerah. Hamparan pegunungan, ladang warga, serta jalur menuju Bukit Sikunir menjadi daya tarik utama kawasan ini.

Warga desa tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti bertani, berkebun, dan beternak meski berada di tengah suhu dingin pegunungan.





Desa ini sering disebut sebagai “negeri di atas awan” karena kabut yang sering menyelimuti wilayahnya. Menurut kalian, lebih indah suasana Desa Sembungan saat kabut tebal atau saat cuaca cerah?


TAG:
#Dieng #Sembungan #Wonosobo #NegeriDiAtasAwan #AwanMedia


Kamis, 14 Mei 2026

Fenomena Desa Sembungan di Dieng: Siang Hari Bisa Menjadi Gelap Total Akibat Kabut Tebal

Sebuah video dari kawasan Dieng membuat publik heboh karena siang hari tiba-tiba berubah menjadi gelap seperti malam.




Fenomena unik dari kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, kembali viral di berbagai platform media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Instagram. Konten yang menampilkan suasana desa di siang hari namun terlihat gelap seperti malam ini berhasil menarik perhatian publik dengan jumlah penayangan yang sangat besar.

Fenomena ini banyak menarik perhatian karena memperlihatkan kondisi alam yang tidak biasa, di mana kabut tebal dapat membuat suasana siang hari berubah drastis menjadi gelap dalam waktu singkat.


 Siang Hari yang Tiba-Tiba Menjadi Gelap

Dalam berbagai video yang beredar, terlihat kondisi jalan dan pemukiman warga di kawasan desa pegunungan yang secara tiba-tiba diselimuti kabut tebal. Akibatnya, jarak pandang menjadi sangat terbatas dan suasana siang hari tampak seperti malam.

Bahkan dalam beberapa momen, lampu jalan terlihat menyala meskipun waktu masih siang hari, karena kondisi lingkungan yang sangat gelap akibat kabut tebal.

Fenomena ini terjadi karena wilayah tersebut berada di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar ±2.300 meter di atas permukaan laut, sehingga cuaca sangat mudah berubah dengan cepat.


📍 Desa Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa

Fenomena ini banyak dikaitkan dengan Desa Sembungan yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Desa ini dikenal sebagai salah satu desa tertinggi di Pulau Jawa dengan suhu udara yang dingin hampir sepanjang tahun.


 Kehidupan Warga

Masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa meskipun berada di wilayah dengan perubahan cuaca yang cepat. Warga sudah terbiasa dengan kabut tebal yang dapat datang kapan saja.


📊 Viral di Media Sosial

Konten ini viral di berbagai platform:


📸 Facebook

(26,8 juta views)



Sumber: Facebook @masawanreal


📸 TikTok

(2,2 juta views)



Sumber: TikTok @masawanreal



📸 Instagram

(677 ribu views)



Sumber: Instagram @masawanbanjarnegarareal



Fenomena Desa Sembungan kembali membuktikan bahwa Indonesia memiliki banyak keunikan alam yang menarik perhatian dunia. Perubahan cuaca ekstrem di dataran tinggi menjadikan kawasan ini tidak hanya indah, tetapi juga penuh fenomena alam yang jarang ditemui di wilayah lain.


Mas Awan Real